Saya sedang mencermati data 10 SMA binaan saya dari beberapa segmen. Tujuannya memetakan profil masing-masing. Tapi fokusnya satu: SDM unggul. Bagaimana lulusan SMA kita bisa menyerbu perguruan tinggi. Menjadi pemenang di masa depan.
Lalu diskusi melebar. Ke soal literasi. Literasi finansial untuk kesejahteraan SDM. Ke soal dompet. Lalu ke soal investasi. Dan pembahasan menyentuh masalah Trading Saham. Muncullah satu nama: Stockbit. Atau saudaranya: Bibit. Dua aplikasi ini sedang digandrungi anak muda. Juga para guru yang mulai sadar finansial.
Di sana ada label mentereng: Syariah. Tapi, hati kecil saya berbisik. Benarkah itu syariah?
Atau jangan-jangan hanya label? Semacam kosmetik biar laku di negeri muslim terbesar ini?
Saya pun menelusuri aturannya. Pelan-pelan.
Ternyata, fatwa DSN-MUI sudah ada sejak 2011. Saham itu halal. Titik. Tapi tunggu dulu. Ada syaratnya. Ada filternya. Bisnisnya tidak boleh jualan khamr. Tidak boleh judi. Tidak boleh bank konvensional yang makan riba.
Lalu diskusi melebar. Ke soal literasi. Literasi finansial untuk kesejahteraan SDM. Ke soal dompet. Lalu ke soal investasi. Dan pembahasan menyentuh masalah Trading Saham. Muncullah satu nama: Stockbit. Atau saudaranya: Bibit. Dua aplikasi ini sedang digandrungi anak muda. Juga para guru yang mulai sadar finansial.
Di sana ada label mentereng: Syariah. Tapi, hati kecil saya berbisik. Benarkah itu syariah?
Atau jangan-jangan hanya label? Semacam kosmetik biar laku di negeri muslim terbesar ini?
Saya pun menelusuri aturannya. Pelan-pelan.
Ternyata, fatwa DSN-MUI sudah ada sejak 2011. Saham itu halal. Titik. Tapi tunggu dulu. Ada syaratnya. Ada filternya. Bisnisnya tidak boleh jualan khamr. Tidak boleh judi. Tidak boleh bank konvensional yang makan riba.
Sampai di sini, hati agak plong. Logis. Sangat sesuai dengan spirit Al-Baqarah: 275.
Di sana tertulis jelas: "...Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba."
Bursa efek adalah tempat jual beli. Akadnya . Barangnya ada—meski digital.
Namun, masuk ke filter kedua, dahi saya mulai berkerut lagi. Soal finansial. Aturan kita membolehkan perusahaan punya utang bank berbasis bunga. Maksimal 45 persen dari total aset. Lalu pendapatan dari bunga bank—misal dari simpanan di bank konvensional—boleh sampai 10 persen. Banyak yang protes. Termasuk saya di dalam hati. "Riba kok pakai toleransi yekopo se ?"
Satu tetes alkohol tetaplah khamr. Logika fiqh klasiknya begitu. Tapi ulama kita punya sudut pandang lain. Sudut pandang darurat. Atau kebutuhan umum. Maslahah Mursalah. Coba cari perusahaan besar hari ini yang benar-benar bersih dari sentuhan bank. Sulit sekali. Hampir semua transaksi ekspor-impor lewat perbankan. Gaji karyawan lewat perbankan. Jika aturannya dipatok harus 0 persen, maka tidak akan ada perusahaan yang masuk daftar syariah. Umat Islam akhirnya hanya jadi penonton. Modal kita hanya mengendap di bawah bantal. Atau malah diputar oleh orang lain untuk memperkuat sistem yang tidak syariah itu. Maka keluarlah angka 45 persen itu. Angka "mayoritas".
Ulama menggunakan kaidah fikih: "Al-Hukmu lil Aghlab". Hukum itu mengikuti yang dominan.
Selama porsi halalnya lebih dominan, maka ia dianggap menang secara hukum.
Bagaimana pelaksanaannya di lapangan?
Sekarang pilihannya banyak. Bukan cuma Stockbit. Ada Ajaib. Milenial sekali. Simpel.
Ada Indo Premier (IPOT). Ini pemain lama yang fiturnya sangat lengkap. Lalu, bagaimana dengan perbankan besar? BCA, si raksasa yang super hati-hati itu, pun tak mau ketinggalan.
Lewat aplikasi BEST (BCA Sekuritas Online Trading), mereka punya layanan syariah.
Sistemnya saklek. Kalau Anda pilih akun syariah, klik beli saham non-halal pun tak akan jalan. Diblokir otomatis oleh sistem. Mandiri juga punya MOST Syariah. BNI punya BIONS.
Semua berlomba menyediakan "karpet merah" bagi investor yang takut riba.
Tentu, bagi yang ingin "murni", ini tetap terasa seperti minum air setengah gelas.
Gelasnya ada, airnya ada, tapi belum penuh. Masih ada sisa ruang untuk keraguan.
Bagaimana mensiasatinya? Para investor syariah yang taat biasanya melakukan cleansing. Pembersihan harta. Pendapatan bunga yang 10 persen tadi dihitung secara proporsional. Lalu disedekahkan.
Tidak dimakan sendiri. Tidak jadi daging di tubuh. Ini sesuai dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi.
Beliau bersabda: "Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi mempedulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari jalan yang halal atau haram."
Gelasnya ada, airnya ada, tapi belum penuh. Masih ada sisa ruang untuk keraguan.
Bagaimana mensiasatinya? Para investor syariah yang taat biasanya melakukan cleansing. Pembersihan harta. Pendapatan bunga yang 10 persen tadi dihitung secara proporsional. Lalu disedekahkan.
Tidak dimakan sendiri. Tidak jadi daging di tubuh. Ini sesuai dengan pesan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits riwayat At-Tirmidzi.
Beliau bersabda: "Akan datang suatu zaman di mana manusia tidak lagi mempedulikan dari mana ia mendapatkan harta, apakah dari jalan yang halal atau haram."
Nah. Label syariah di BCA, Stockbit, atau Ajaib ini adalah upaya agar kita tidak sampai ke titik "tidak peduli" itu. Ia adalah benteng. Meski bentengnya belum setinggi gunung. Kita hidup di zaman di mana debu-debu riba terbang ke mana-mana. Dalam hadits riwayat Abu Daud, Rasulullah pernah memperingatkan: "Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman, tidak ada seorang pun di antara mereka kecuali memakan riba. Jika ia tidak memakannya, maka ia akan terkena debunya."
Itulah realitas sistem ekonomi global kita hari ini.
Maka, memilih instrumen syariah adalah cara kita meminimalkan "terkena debu" itu.
Di SMA-SMA binaan saya, literasi finansial seperti ini penting untuk disampaikan.
SDM unggul bukan cuma pintar matematika atau fisika. Bukan cuma soal mengejar kursi PTN.
Tapi juga harus punya integritas moral dalam mengelola harta.
Pintar mencari uang. Tapi juga tahu cara "mencuci" uangnya agar berkah.
Zaman terus berubah. Teknologi investasi memudahkan kita.
Tapi nurani tetap harus jadi kompas utama.
Syariah bukan sekadar label hijau di layar smartphone.
Syariah adalah niat untuk tetap di jalan yang benar di tengah rimba ekonomi yang abu-abu.
Memang belum sempurna. Memang masih ada residu riba yang menempel.
Tapi lebih baik berjalan meski agak kotor di kaki, daripada diam lalu mati kekeringan.
Kita sedang belajar. Umat sedang berproses.
Dari yang tidak tahu, menjadi tahu. Dari yang tahu, menjadi selektif.
Insyaallah, suatu saat kita bisa membangun sistem yang benar-benar 100 persen bersih.
Tanpa setengah gelas. Tanpa toleransi persentase.
Tapi untuk sampai ke sana, kita butuh SDM yang berdaya saing.
SDM yang paham teknologi, tapi tidak kehilangan iman.
Begitu bukan?
- Alai Tamamai -

0 Komentar
Komentar Anda menjadi Snack untuk Kami